Person Writing On A Notebook Beside Macbook
Source: www.pexels.com

Siapa nih, yang dari dulu cita-citanya pengen jadi PENULIS. Atau, kamu adalah newbie yang masih buta sana-sini tentang dunia kepenulisan. Punya bakat nulis, sih, belum cukup untuk masuk ke bidang literasi, jika kamu hanya giat menulis tanpa mengetahui teknik-teknik jitu yang akan menunjang tulisanmu. Jadi PENULIS, ya memang harus rajin menulis, tapi, kepuasan terhadap tulisanmu itu, sudah tercapai belum?

            Apa saja planning kamu sebelum berjumpa dengan beragam jenis tulisan. Fiksi atau nonfiksi pun, tetap sama tekniknya jika kamu sudah paham betul apa yang sedang  kamu kerjakan saat ini. Salah satu hal yang paling sering mencuat di benak para newbie yang baru memasuki dunia kepenulisan adalah menerbitkan buku. Tentu saja, poin itu akan menjadi to do list pertama yang sangat diinginkan semua orang yang berjibaku dengan tulisan.

            Namun, sudahkah anda menyiapkan semua perkara yang nantinya akan muncul menghambat perjalanan anda? Akankah anda dapat terus bertahan?

            Penerbit apa yang akan menjadi tujuanmu untuk mengirimkan naskah? Mayorkah? Atau kamu ingin berjuang dengan Paket Indie? Dua pilihan ini harus anda tentukan terlebih dahulu sebelum berkhayal lebih jauh tentang nasib karya tulisan anda. Jika mayor yang menjadi pilihan anda, saatnya saya katakan selamat datang di dunia kepenulisan! Mengapa begitu? Bukankah menerbitkan buku dengan Paket Indie pun, tidak akan menutup kemungkinan akan sukses di kemudian hari? Tidak! saya tidak mengatakan bahwa menerbitkan buku dengan paket indie bukan merupakan pilihan terbaik. Tetapi, sependek pengalaman saya dan orang-orang terdekat saya, perjuangan seorang penulis, akan terlihat ketika ia mengirimkan naskah ke penerbit mayor. Mengapa begitu?

            Penerbit mayor yang saya maksud di sini adalah penerbit yang sudah memiliki branding dengan rating terbaik di Indonesia. Sebut saja Gramedia Pustaka Utama, Bentang Pustaka, Mizan, dan lainnya yang pernah melahirkan novel-novel dari penulis hebat. Mengirim naskah ke penerbit yang saya sebutkan tadi, bukanlah perkara mudah. Karena, mereka sudah memiliki branding nama yang sangat baik di kalangan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, jumlah naskah yang diterima setiap harinya pun, diperkirakan akan membludak. Maka dari itu, saya katakan suka dukanya penulis, jika sudah berani melemparkan naskah ke penerbit mayor, pasti ia sudah menulis dengan sangat teliti. Karena tahu bahwa penerbit sasarannya bukanlah penerbit kaleng-kaleng yang asal menerbitkan karya orang.

             Sedangkan paket indie, biasanya orang-orang terpacu dengan hasratnya yang besar untuk melahirkan sebuah karya. Oleh karena itu, paket indie pun, tak akan jadi masalah bagi mereka. Padahal, sangat disayangkan apabila pikiran-pikiran seperti ini muncul di benak seorang penulis. Hal ini hanya akan menghasilkan semangat di awal yang kemudian akan surut seiring dengan tidak lakunya sebuah karya tersebut. Tetapi, jangan salah! Seorang penulis Indonesia, Dee Lestari, juga pernah mencetak karyanya melalui jalur indie. Jadi, kembali pada diri kalian masing-masing. Jadikan sosok Dee Lestari  sebagai panutanmu dan tolok ukurmu jika kamu memilih paket indi. Semoga berhasil! Semangat! +.+

            Berikut tips yang bisa anda terapkan sebelum mengirimkan karya:

1.   Buat Naskah yang Memikat

Naskah yang memikat itu seperti apa, sih?

Anda tidak perlu pusing memikirkan poin ini. Naskah yang memiliki daya tarik tinggi di mata editor penerbit adalah tulisan yang mampu membuat sang pembaca ketagihan untuk terus menikmati tulisan anda. Hal ini yang tidak boleh ketinggalan, yaitu meramu kalimat pembuka pada naskah anda.

Tulisan yang anda tuangkan di awal, akan menentukan seperti apa kelanjutan nasib anda di tangan editor. Jika mampu mengolah emosi pembaca di kalimat awal, maka editor akan jatuh cinta pada tulisanmu. Upss!! Jangan hanya di awal, ya…. Lakukan juga di kalimat-kalimat berikutnya pada naskahmu, tapi, kunci utama tetaplah pada bagian awal. Di tengah cerita, kamu bisa membawakan sesuai dengan alur ceritamu. Ingat, taburkan bumbu penyedap di awal tulisanmu!

2.     Sertakan Sinopsis dan Outline Naskah

Poin ini tidak kalah penting dari pembahasan di atas. Karena, tak semua editor mempunyai banyak waktu untuk membaca naskahmu. Mereka dapat melihat dari uraian singkat yang anda tuliskan di bagian ini. Karena, di sinilah gambaran seluruh isi naskah akan terlihat. Oleh karena itu, buatlah sinopsis yang maknanya padat dan mencakup isi naskah. Dengan begitu, editor dapat menangkap gambaran dari naskahmu hanya dengan membaca bagian sinopsis dan outline-nya saja.

Jangan salah! Menarik atau tiaknya naskah pun, bisa terlihat di sini. Editor akan melihat gagasan utama dan pokok pembahasan dari tulisan. Jika tidak sesuai dengan tema dan melenceng dari visi penerbit, pihak editor tidak akan menerima naskah tersebut. Maka, jangan abaikan bagian ini, yaa!;)

3.      Sertakan Keistimewaan, Kelebihan, dan Keunggulan Naskah

Apa bedanya ketiga kata itu? Keistimewaan, kelebihan dan keunggulan? Hahaa, sama! Hanya saja, saya tulis begitu agar menjadi penekanan bagi anda. Hal ini cukup penting sebagai media promosi kita ke pihak penerbit. Kemungkinan besar, setiap kalimat yang anda tuangkan di sini, akan membentuk sebuah persepsi dari editor. Bagaimana bisa? Saya mengatakan seperti itu bukannya asal bicara teman-temanJ. Eh, maaf, asal ketik maksud saya.

Jika seorang penulis menuliskan sebuah buku dengan tema yang cukup pasaran. Maka, hal ini akan menjadi poin terpenting agar anda dapat membekuk hati editor. Karena, di bagian ini anda bisa menunjukkan bahwa naskah anda berbeda dari buku yang sudah pernah terbit, dan mempunyai keunggulan tersendiri dibanding buku-buku pasaran lainnya.

Anda bisa mencantumkan keunikan karakter tokoh di cerita anda, atau keunikan tema yang anda pilih di dalam naskah anda. Gaya penyajian sebuah tulisan juga dapat anda unggulkan di sini. Jangan sampai sebagai penulis dari naskah terkait, malah tidak tahu apa kelebihan dari buah karyanya. Hal itu sangat fatal!

4.     Lampirkan CV Penulis

Jangan sampai lupa menyertakan CV anda dalam pengiriman naskah. Tentunya editor juga ingin mengetahui latar belakang anda, tapi, tak perlu mencantumkan CV layaknya anda ingin melamar pekerjaan. Prestasi di bidang kepenulisan atau pengalaman menerbitkan buku bisa menjadi hiasan di dalam curriculum vitae anda. Namun, jangan lupa juga untuk menuliskah informasi individu seperti sosial media dan url blog anda. Hal ini akan menjadi nilai plus anda dalam merayu editor. ><

5.      Adab tetap nomor 1

Maksudnya apa, sih, adab tetap omor satu? Kan, Cuma ngirim lewat email. Pkita tidak akan bertemu dengan tim penerbit. Lalu, bagaimana cara menunjukkan bahwa kita memiliki attitude yang super?

Heyyy! Adab itu gak melulu ditunjukkan dengan virtually. Contohnya saja, anda pasti sering mendengar adab bersosial media yang baik dan benar. Ini perihal moral yang akan menjadi cover kita. Oleh karena itu, dalam hal apapun, adab memang harus selalu dijunjung.

Next, kalau dalam pengiriman naskah, gimana caranya menjunjung asas ini? Yapsss, tentu saja dari cara anda mengirimkan naskah. Pesan pengantar yang anda tuliskan akan menjadi ujung tombak peperangan ini. Bayangkan saja, jika anda tidak menulis kata pengantar untuk mengiringi naskah yang dikirim melalui email. Bisa-bisa tidak akan terbuka, atau bahkan kemungkinan disentuh pun, akan sangat minim.

 

Itulah kiat dan tips yang bisa anda terapkan saat akan mengirimkan naskah. Semoga bermanfaat. “. “





0 Comments